Festival Sastra Saraswati Sewana 2025: Teknologi untuk Kemajuan Peradaban dan Budaya Bali

Info Rendang — Festival Sastra Saraswati Sewana 2025 resmi digelar sebagai bentuk apresiasi terhadap kebudayaan Bali dan refleksi atas dampak teknologi terhadap peradaban. Bertema “Brahmasara Bhawana Mukti: Teknologi untuk Kemajuan Peradaban”, festival yang diinisiasi oleh Yayasan Puri Kauhan Ubud ini memasuki penyelenggaraan kelima dengan semangat baru yang mengedepankan sinergi antara nilai-nilai budaya dan kemajuan teknologi.
Tema ini diangkat sebagai respons atas transformasi besar yang terjadi akibat revolusi teknologi global seperti AI, cloud computing, dan big data, yang turut memengaruhi kehidupan masyarakat Bali. Di tengah era disrupsi ini, masyarakat Bali dihadapkan pada tantangan untuk tetap mempertahankan identitas budaya sekaligus beradaptasi.
Festival Budaya Bali 2025: Spirit Leluhur, Teknologi, dan Apresiasi Tokoh
Festival diawali dengan Dharma Panuntun pada 27 Juni 2025 yang menghadirkan para wiku terkemuka seperti Ida Pedanda Gede Purwa Dwija Singarsa, Ida Pedanda Gede Swabawa Karang Adnyana, dan Ida Pedanda Gede Nyoman Putra Talikup. Mereka memberikan tuntunan spiritual dan budaya terkait sains dan teknologi dari perspektif sastra agama dan warisan leluhur Bali.
Baca Juga : Prof Dibia Terlibat di PKB Dimulai 1979, Sendratari Kolosal Ramayana Tujuh Kanda
Festival utama akan digelar pada 10–14 Juli 2025 di Taman Sanggingan Ubud, dan rencananya akan dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (dalam konfirmasi). Salah satu agenda penting adalah penganugerahan Sastra Saraswati Sewana Nugraha 2025 kepada lima tokoh besar yang berjasa dalam kemajuan budaya dan teknologi Bali:
-
(Alm.) I Gusti Nyoman Lempad
-
(Alm.) Ir. Tjokorda Raka Sukawati
-
(Alm.) Ir. Ida Bagoes Oka
-
(Alm.) Ida Bagus Putu Tugur
-
Nyoman Nuarta
Festival ini akan menampilkan Pameran Brahmasara Bhawana Mukti, sebagai ruang dialog antara seniman, undagi, sangging, pande, dan penggiat AI, serta kompetisi seni pertunjukan berbasis teknologi, guna mendorong inovasi dan regenerasi seni budaya Bali.
Puncak acara akan digelar pada Desember 2025 melalui peluncuran buku “Brahmasara Bhawana Mukti”. Serta pertunjukan karya seni terbaik dari hasil kompetisi. Diharapkan, festival ini mampu membangun jembatan antara budaya tradisional dan kemajuan teknologi. Menginspirasi generasi muda Bali untuk terus berkarya dalam bingkai kearifan lokal.
















