Info Rendang – Desa Adat Kesimpar, Kecamatan Abang, Karangasem, sukses menggelar Nyepi Sipeng, salah satu tradisi adat sakral yang menjadi bagian dari rangkaian Upacara Usaba Sri (Usaba Dodol) di Pura Puseh setempat, bertepatan dengan Purnama Kasa, Wraspati Pon Uye, pada Kamis (10/7/2025).

Nyepi Sipeng merupakan bentuk hari kesunyian total bagi umat Hindu setempat, di mana seluruh warga melaksanakan Catur Brata Penyepian, yaitu:
-
Amati Geni (tidak menyalakan api),
-
Amati Lelungan (tidak bepergian),
-
Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan), dan
-
Amati Karya (tidak bekerja).
Bendesa Adat Kesimpar, I Wayan Kari Subali, menjelaskan, pelaksanaan Nyepi Sipeng ini sebagai bentuk rasa syukur atas berkah kesuburan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Melalui yadnya (upacara), warga berharap siklus kehidupan terus berlanjut dengan seimbang antara Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).
Baca Juga : Buntut Kasus Penutupan Asram, Bhabinkamtibmas Subagan Buat Surat Permohonan Maaf
“Pelaksanaan Nyepi berlangsung dari pukul 07.00 hingga 18.00 WITA. Tidak ada satu pun pelanggaran,” tegas Kari Subali, Sabtu (12/7).
Sebanyak 53 pecalang dikerahkan untuk menjaga ketertiban, dipimpin Kelian Pecalang I Nengah Merta, dengan dukungan dari Polsek Abang dan Koramil Abang. Mereka disebar di 21 banjar adat di wilayah Desa Adat Kesimpar.
Jika ada warga yang melanggar, sanksi akan dijatuhkan berdasarkan hasil sidang adat di Bale Agung, oleh 102 krama desa, sesuai dengan awig-awig dan dresta desa.
Kondisi Lingkungan Mendukung
Selama Nyepi, aktivitas sekolah dan kantor desa tidak terganggu karena bertepatan dengan hari libur. Tercatat ada 12 sekolah (10 SD dan 2 SMP) dan empat kantor pemerintahan. Termasuk Kantor Camat Abang, dalam keadaan tidak aktif pada hari pelaksanaan.
Apresiasi dari Pemerintah Kecamatan
Camat Abang, I Putu Agus Teja Pramascita, memberikan apresiasi atas ketertiban pelaksanaan Nyepi adat di Desa Adat Kesimpar.
“Pelaksanaannya sesuai dresta dan adat setempat. Warga sangat disiplin,” ujarnya.
Penasihat Pecalang, I Wayan Wenten, turut menyampaikan rasa syukur karena seluruh prosesi berjalan lancar, tanpa pelanggaran dan benar-benar sipeng.
“Tidak ada warga yang lalulalang, semua tertib, tidak menerima atau bertamu,” ucapnya.
Kesimpulan:
Tradisi Nyepi Sipeng di Desa Adat Kesimpar tidak hanya menjadi ritual spiritual. Tetapi juga wujud nyata pelestarian budaya dan nilai kearifan lokal. Dengan semangat kebersamaan dan kedisiplinan, masyarakat Kesimpar menunjukkan harmoni antara manusia dan alam dalam suasana sunyi nan sakral.
















