Merawat Kewarasan Berpikir di Era Kebisingan Digital: Refleksi Buda Manis Tambir

Info Rendang – Dalam perenungan spiritual yang jatuh pada Buda Manis Tambir, sasih Sadha, Icaka 1947, kita diingatkan untuk kembali pada keseimbangan batin dan kejernihan pikiran. Hari ini memiliki makna simbolis kuat:
-
Buda di arah Barat, pemujaan pada Tuhan Mahadewa
-
Manis di arah Timur, pemujaan pada Tuhan Iswara
-
Dauh Ayu dari Utara, simbol kehadiran Wisnu
Ketiganya membentuk poros spiritual yang menyatukan Mahadewa-Iswara-Wisnu, dalam satu kesadaran utuh pada ruang hidup manusia. Ini menjadi titik tolak refleksi penting di era kebebasan ekspresi saat ini.
Baca Juga : Cegah Terminal jadi Pasar Semrawut, Pemkot Denpasar Bangun Kawasan Terpadu Pasar dan Terminal Kreneng
Kebebasan Media Sosial: Antara Voice, Noise, dan Nutrisi
Dunia media sosial saat ini sangat bebas, tapi juga berisik. Banyak pendapat berseliweran, namun tak semuanya bermakna. Konten berisi racun (toxic) bercampur dengan konten bernutrisi, yang menyehatkan pikiran dan jiwa.
Sayangnya, yang lebih sering terdengar adalah noise — komunikasi tanpa makna, dibanding voice, komunikasi yang berbobot dan mencerahkan. Dalam kondisi ini, menjaga kewarasan berpikir menjadi kebutuhan utama.
Tiga Obat Menjaga Kewarasan Berpikir
1. Pemahaman Spiritual dan Kecerdasan Viveka
Pengetahuan agama, meski sederhana, mampu membangkitkan viveka (kecerdasan membedakan). Ini memungkinkan kita memahami dan menerapkan Tri Guna (Satvam, Rajas, Tamas) secara bijak dalam konteks Desa, Kala, Patra. Tujuan akhirnya adalah mencapai Tri Guna Titha, kualitas hidup yang melampaui pengaruh ketiga sifat tersebut.
2. Praktik Hidup Sederhana dan Jujur
Menjaga kewarasan berpikir juga bisa dilakukan melalui praktik hidup yang membumi:
-
Jujur pada diri sendiri
-
Tidak hidup mewah melebihi kemampuan
-
Tidak mudah ikut-ikutan tren tanpa arah (“milu-milu tuung”, “suryak siu”)
-
Menjauhi kebodohan impulsif (“belog ajum”)
3. Melawan Era Akhir Kepakaran (The End of Expertise)
Kita hidup di masa ketika pendapat dangkal dari “influencer” bisa mengalahkan suara para ahli. Ini era ketika orang malas berpikir mendalam, dan lebih suka menyebarkan sensasi. Dalam kondisi ini, penting menjaga semangat belajar dan tetap mendengarkan mereka yang bijak dan berilmu.
Menjadi “Wong Weruh, Menak Utama”
Dalam Itihasa Mahabharata, disebut bahwa orang yang memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan — “wong weruh” — adalah yang paling dihormati. Suara mereka harus terus digemakan, menjadi cahaya di tengah kebisingan yang memekakkan.
















